Friday, November 6, 2015

Klasifikasi Jamur (Fungi)

“Hai guys,..... biologi kelas x .blogspot.com kali ini akan membahas tentang klasifikasi jamur. Postingan  ini diharapkan dapat membantu kalian semua agar mampu mendeskripsikan ciri-ciri dan jenis-jenis jamur berdasarkan hasil pengamatan, percobaan, dan kajian literatur serta peranannya bagi kehidupan.

Menurut Campbell (1998: 576), kini telah diketahui lebih dari 100 ribu spesies jamur. Selain itu setiap tahunnya para ahli jamur atau ahli Mikologi dapat mengidentifikasi sekitar 1.000 spesies. Kingdom Fungi dikelompokkan menjadi lima divisio, yaitu Chytridiomycota, Zygomycota, Ascomycota, Basidiomycota, dan Deuteromycota.

Pada divisio Chytridiomycota, sporanya memiliki flagela dan disebut zoospora. Divisio Chytridiomycota adalah satu-satunya kelompok jamur yang sporanya memiliki flagela. Beberapa ahli jamur percaya bahwa 750 spesies divisio Chytridiomycota merupakan jamur yang sangat sederhana dan merupakan jamur purba. Beberapa anggota Chytridiomycota memiliki habitat di perairan dan beberapa lagi hidup sebagai parasit pada alga atau jamur lainnya. Adapun divisio Deuteromycota merupakan kelompok jamur yang reproduksi seksualnya belum diketahui atau disebut juga jamur imperfect (jamur tidak sempurna). Pada pembahasan kali ini, hanya akan dijelaskan tiga divisio, yaitu Zygomycota, Ascomycota, dan Basidomycota.

1. Divisio Zygomycota

Para ahli Mikologi telah mengidentifikasi sebanyak 600 spesies jamur dari divisio Zygomycota. Jamur dari divisio ini umumnya hidup di darat, di dalam tanah atau pada tanaman dan hewan yang telah mati. Jamur divisio ini juga hidup pada makanan yang busuk.

Tubuh Zygomycota terdiri atas hifa yang tidak bersekat. Pada saat akan bereproduksi, beberapa hifa berdiferensiasi membentuk Zigosporangium. Zigosporangium merupakan alat reproduksi seksual pada jamur divisio ini. Adapun reproduksi aseksualnya secara fragmentasi atau disebut juga spora aseksual.

Contoh jamur ini adalah Rhizopus stolonifer atau disebut juga jamur tempe. Jamur tersebut digunakan dalam proses pembuatan tempe. Reproduksi Rhizopus stolonifer terjadi secara aseksual dan seksual. Perhatikan gambar berikut.

Gambar : Reproduksi aseksual dan seksual pada Rhizopus stolinifer

Reproduksi seksual pada jamur tempe terjadi dengan penyatuan (fusi) gametangia dari ujung hifa positif dan negatif. Akibat fusi tersebut terbentuk zigosporangium. Setelah itu terjadi penyatuan inti dan dihasilkan zigosporangium dewasa yang diploid. Dalam kondisi lingkungan yang baik, zigosporangium akan berkecambah dan membentuk hifa-hifa haploid (n). Hifa-hifa tersebut akan menghasilkan spora. Pada reproduksi aseksual spora dibentuk di dalam sporangium yang terletak di ujungujung hifa.

Anggota divisio Zygomycota ada yang hidup parasit pada organisme lain sehingga menyebabkan penyakit. Selain itu, ada pula yang hidup bersimbiosis mutualisme dengan organisme lain. Selain Rhizopus stolonifer contoh lainnya adalah Pilobolus.

Gambar : Contoh spesies dari divisio Zygomycota, yaitu (a) Rhizopus stolonifer dan (b) Pilobolus.

2. Divisio Ascomycota

Lebih dari 60.000 spesies dari divisio ini telah teridentifaksi. Nama Ascomycota ini diambil dari kata askus (menyerupai kantung). Askus ini merupakan ujung hifa yang mengalami perubahan inti dan akan membentuk tubuh buah. Anggota divisio ini ada yang hidup sebagai saprofit, terutama pada tanaman. Menurut Campbell (1998: 578), setengah dari jumlah spesies Ascomycota bersimbiosis dengan alga membentuk Lichen. Beberapa lainnya lagi bersimbiosis dengan tanaman membentuk mikoriza.

Gambar : Contoh divisio Ascomycota adalah a) Morchella esculenta dan (b) Neurospora crassa
Ascomycota sebagian besar anggotanya multiselular. Akan tetapi, ada juga yang uniselular. Contoh Ascomycota uniselular adalah Saccharomyces cereviceae. Adapun contoh Ascomycota multiselular adalah Penicillium. Ascomycota multiselular memiliki hifa yang bersekat. Ascomycota multiselular ada yang membentuk tubuh buah, contohnya Morchella esculenta. Ada pula yang tidak membentuk tubuh buah, contohnya Neurospora crassa. Bentuk tubuh buah Ascomycota beragam, ada yang seperti mangkuk, adapula yang bulat.

Reproduksi Ascomycota terjadi secara aseksual dan seksual. Pada Ascomycota multiselular, reproduksi aseksualnya terjadi dengan cara membentuk konidia. Konidia merupakan spora aseksual yang dibentuk di ujung konidiofor. Konidiofor sendiri adalah hifa yang termodifikasi membentuk tangkai sporangium.

Reproduksi secara seksual pada Ascomycota uniselular terjadi dengan cara konjugasi. Hasil dari konjugasi adalah sel diploid. Sel diploid ini memiliki bentuk memanjang dan membentuk askus. Askus merupakan struktur mirip kantung yang mengandung spora (askospora). Inti diploid akan mengalami meiosis dan membentuk inti yang haploid. Inti-inti yang haploid ini akan menjadi askospora.

Gambar : Konidia merupakan spora aseksual yang di bentuk pada konidiofor

Adapun pada Ascomycota multiseluler, reproduksi seksualnya terjadi dengan cara perkawinan antara hifa haploid (n) yang berbeda jenis, yaitu hifa positif dan hifa negatif. Pada saat penyatuan, akan terbentuk hifa dikariotik (berinti dua). Pada ujung hifa dikariotik ini akan terjadi fusi (penyatuan) inti sehingga sel-selnya menjadi diploid (2n). Setelah itu, terjadi peristiwa meiosis yang akan membentuk kembali inti-inti yang haploid (n). Pada hifa dikariotik, ujung-ujungnya akan membentuk askus. Askus tersebut akan berkelompok membentuk tubuh buah (askokarp). Perhatikan Gambar berikut.


Gambar : Siklus reproduksi pada jamur divisio Ascomycota

3. Divisio Basidiomycota

Gambar : Bagian Tubuh buah Basidiomycota
Menurut Campbell (1998: 579), jamur dari divisio ini memiliki jumlah sekitar 25.000 spesies. Nama dari divisio ini diambil dari bentuk diploid yang terjadi pada siklus hidupnya, yaitu basidium. Basidiomycota hidup sebagai dekomposer pada kayu atau bagian lain tumbuhan. Basiodiomycota memiliki tubuh buah (basidiokarp) yang besar sehingga mudah untuk diamati. Bentuk jamur ini ada yang seperti payung, kuping, dan setengah lingkaran. Tubuh buah Basidiomycota terdiri atas tudung (pileus), bilah (lamella), dan tangkai (stipe).

Reproduksi pada jamur ini terjadi secara aseksual dan secara seksual. Reproduksi secara aseksual menghasilkan konidia. Adapun secara seksual terjadi dengan cara perkawinan antara hifa yang berbeda jenisnya. Pada saat perkawinan ini, hifa yang berbeda jenis tersebut bersatu dan dinding selnya hancur. Akibat dari hancurnya dinding sel ini, plasma sel akan bercampur atau disebut juga plasmogami. Pada saat pencampuran plasma sel, inti pun bersatu dan berkembang menjadi hifa dikariotik yang diploid. Hifa dikariotik ini nantinya akan mengalami meiosis dan menjadi inti yang haploid.

Gambar : Siklus hidup pada jamur divisio Basidiomycota

Contoh jamur divisio ini adalah jamur merang (Volvariella volvaceae) dan jamur kuping (Auricularia polytricha). Kebanyakan jamur dari divisio Basidiomycota ini dapat dikonsumsi.

Gambar : (a) Jamur merang (Volvariella volvaceae) dan (b) jamur kuping (Auricularia polytricha) merupakan contoh jamur Basidiomycota.

Sumber :

  • Firmansyah, Rikky. 2009. Mudah dan Aktif Belajar Biologi 1 : untuk Kelas X Sekolah Menengah Atas / Madrasah Aliyah Program Ilmu Pengetahuan. Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, 2009.

Ciri-ciri Jamur

“Hai guys,..... biologi kelas x .blogspot.com kali ini akan membahas tentang ciri-ciri jamur. Postingan  ini diharapkan dapat membantu kalian semua agar mampu mendeskripsikan ciri-ciri dan jenis-jenis jamur berdasarkan hasil pengamatan, percobaan, dan kajian literatur serta peranannya bagi kehidupan.

Kingdom Fungi atau sehari-hari kita menyebutnya jamur, memiliki ciri-ciri yang berbeda dari organisme lainnya. Ciri-ciri tersebut dilihat dari struktur tubuh maupun cara reproduksinya. Jamur merupakan organisme eukariot. Anggotanya ada yang uniseluler dan ada pula yang multiseluler.

Jamur tidak memiliki klorofil, yang berfungsi dalam fotosintesis. Dengan kata lain, jamur tidak dapat menyintesis makanannya. Oleh karena itu, jamur dikelompokkan sebagai organisme heterotrof. Jamur memperoleh makanan dengan cara absorpsi, yaitu dengan menyekresikan suatu enzim. Kemudian, enzim tersebut berfungsi menghancurkan makanan yang ada di luar tubuhnya. Makanan yang hancur dalam bentuk molekul-molekul nutrien akan diserap oleh jamur.

Cara hidup jamur terbagi menjadi tiga macam, yaitu secara parasit, saprofit, dan mutualisme. Secara parasit, jamur menyerap makanan dari organisme hidup lainnya, seperti tumbuhan, hewan, atau bahkan jamur lainnya. Sari makanan akan diserap oleh jamur parasit dan akhirnya dapat menyebabkan kerusakan, bahkan kematian bagi organisme tersebut. Adapun jamur yang absorpsi makanannya secara saprofit adalah dengan cara menguraikan organisme mati untuk diserap bahan organiknya.

Jamur yang hidup secara mutualisme adalah jamur bersimbiosis dengan organisme lainnya, contohnya dengan tanaman. Jamur bersimbiosis pada organ akar tanaman tingkat tinggi dan membentuk mikoriza. Hubungan tersebut saling menguntungkan. Jamur akan mendapatkan makanannya, sedangkan tanaman yang ditumpanginya akan dapat menyerap air dan mineral dari tanah. Hal tersebut dikarenakan, jamur yang terdapat pada akar akan menyerap mineral dari dalam tanah. Mineral tersebut akan digunakan tanaman untuk menyintesis makanan. Hasil sintesis makanan oleh tanaman akan diserap oleh jamur sehingga keduanya saling diuntungkan. Perhatikan gambar berikut ini.

Gambar : Simbiosis antara jamur dan akar tumbuhan tingkat tinggi membentuk mikoriza.

1. Struktur Tubuh Jamur

Umumnya, dinding sel jamur tersusun dari kitin. Jamur multiseluler memiliki morfologi atau bentuk tubuh yang bermacam-macam, ada yang seperti kuping, payung, bulat, ataupun setengah lingkaran.

Gambar : Morfologi tubuh jamur berbentuk (a) payung, (b) bulat, dan (c) kuping.

Jamur multiselular memiliki sel-sel memanjang menyerupai benangbenang yang disebut hifa. Hifa akan membentuk cabang-cabang seperti anyaman yang disebut miselium. Miselium ini ada yang berdiferensiasi membentuk alat reproduksi, yang disebut miselium generatif.

Gambar : Hifa dan miselium yang terdapat pada jamur.

Hifa pada jamur ada yang bersekat (hifa septa) dan ada pula yang tidak bersekat. Pada hifa yang tidak bersekat, inti selnya menyebar dalam sitoplasma. Hifa jamur tidak bersekat ini disebut juga hifa senositik. Selain itu ada pula hifa khusus. Pada jamur parasit. Hifa pada jamur ini berfungsi menyerap makanan dari inangnya. Hifa ini dinamakan hifa haustoria. Perhatikan gambar berikut ini.

Gambar : Karakteristik hifa pada jamur (a) hifa bersekat (hifa septa), (b) hifa tidak bersekat (hifa sinositik), dan (c) hifa haustoria.

2. Reproduksi Jamur

Reproduksi pada jamur dapat secara aseksual dan seksual. Reproduksi aseksual pada jamur uniselular dilakukan dengan cara pembentukan tunas dan fragmentasi. Adapun pada jamur multiselular dengan pembentukan sporangiospora atau konidiospora.

Reproduksi jamur secara seksual dilakukan oleh spora seksual yang haploid (n), berupa zigospora, askospora atau basidiospora. Spora seksual dihasilkan melalui singami, yaitu penyatuan sel atau hifa yang berbeda jenisnya. Dalam proses singami terjadi dua tahap, yaitu plasmogami (penyatuan sitoplasma sel) dan kariogami (penyatuan inti sel).

Sumber :

  • Firmansyah, Rikky. 2009. Mudah dan Aktif Belajar Biologi 1 : untuk Kelas X Sekolah Menengah Atas / Madrasah Aliyah Program Ilmu Pengetahuan. Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, 2009.