Friday, October 9, 2015

Archaebacteria

Kelompok bakteri ini merupakan bakteri purba dan hidup di tempat-tempat yang ekstrim. Berdasarkan tempat hidupnya, kelompok Archaebacteria dibagi menjadi tiga kelompok, yakni bakteri metanogenik, bakteri halofilik, dan bakteri termofilik.

Bakteri metanogenik bersifat anaerobik dan kemoautotrof. Bakteri metanogenik memiliki metabolisme yang unik, yakni menggunakan H2 dan CO2 untuk membentuk metana (CH4). Bakteri ini akan mati apabila di sekitarnya terdapat oksigen. Oleh karena itu, bakteri ini hidup di tempat-tempat yang mengandung sangat sedikit oksigen, contohnya di rawa-rawa dan tumpukan sampah.
Bakteri halofilik diberi nama berdasarkan habitatnya. Halofilik berasal dari kata Yunani, halo yang artinya garam, dan philos yang artinya suka. Bakteri halofilik hidup di tempat yang memiliki salinitas (kadar garam) tinggi, seperti di Great Salt Lake, Amerika Serikat.


Bakteri termofilik hidup di tempat yang bersuhu tinggi. Kondisi optimal bagi Archaebacteria ini berkisar antara 60°C hingga 80°C. Contoh dari bakteri termofilik ini adalah Sulfolobus. Sulfolobus hidup pada kolam geiser yang mengandung sulfur di kawah-kawah gunung, seperti di Taman Nasional Yellowstone, Amerika. Bakteri ini mendapatkan energi dengan mengoksidasi sulfur. Aktivitas dari bakteri termofilik dapat menyebabkan warna hijau pada kolam geiser.

Sumber :
  • Firmansyah, Rikky. 2009. Mudah dan Aktif Belajar Biologi 1 : untuk Kelas X Sekolah Menengah Atas / Madrasah Aliyah Program Ilmu Pengetahuan. Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, 2009.

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.